Nama “Rabu Abu” berasal dari praktek/ritual yang biasanya dilayankan pada hari itu, yaitu peneraan tanda salib dari abu pada kening/dahi umat/jemaat sebagai tanda atau simbol pertobatan.
Abu yang digunakan untuk pelayanan ini biasanya berasal dari hasil pembakaran salib daun palem yang disimpan oleh masing-masing umat sejak hari Minggu Palmarum pada tahun gerejawi sebelumnya.
Peneraan tanda salib dengan abu ini dilayankan oleh seorang pendeta (di Gereja Protestan) atau imam (di Gereja Roma Katolik) kepada umat/jemaat yang hadir.
Sambil menerakan tanda salib, sang imam/pendeta mengingatkan umat akan makna pertobatan, dengan mengatakan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15)












